Depan Profil Sejarah Desa .......

Sejarah Desa .......

Desa kapandayan merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Ciawigebang Kabupaten Kuningan Propinsi Jawa Barat. Desa Kapandayan berdiri pada tahun 1935. Asal mula nama Kapandayan berasal dari pekerjaan penduduk desa kapandayan yang mayoritas masyarkatnya bekerja sebagai tukang pembuat perkakas rumah tangga (tukang pandai) masyarakat yang mayoritasnya menjadi tukang pandai tepatnya berada di Dusun Keliwon atau yang terkenal dengan sebutan Pamijen, dari situlah asal mula munculnya nama kapandayan. Sebelum menjadi desa Kapandayan, dahulu sebenarnya wilayah kapandayan menyatu dengan desa Sidaraja. Namun karna wilayah Sidaraja yang terlalu luas akhirnya masyarakat memutuskan untuk memisahkan diri. Desa kapandayan memiliki luas + 67,22 Ha. Desa Kapandayan terdiri dari 5 Dusun, yaitu :
1.      Dusun Manis dengan jumlah penduduk         =731 Orang, KK =195
2.      Dusun Pahing dengan jumlah penduduk        =520 Orang, KK =141
3.      Dusun Puhun dengan jumlah penduduk         =407 Orang, KK =135
4.      Dusun Wage dengan jumlah penduduk          =588 Orang, KK =177
5.      Dusun Kliwon dengan jumlah penduduk       =895 Orang, KK =221
=3.140 Orang       865
Dari awal berdirinya Desa Kapandayan, desa Kapandayan di pimpin dengan beberapa orang kepala desa, yaitu :
1.      Bapak Bambang menjabat dari tahun 1935 sampai tahun 1965
2.      Bapak Maksum menjabat dari tahun 1965 sampai tahun 1981
3.      Bapak Muin menjabat dari tahun 1981 sampai tahun 1989
4.      Bapak Uki Maduki menjabat dari tahun 1989 sampai tahun 2001
5.      Bapak Pulung menjabat dari tahun 2001 sampai 2007
6.      Bapak Edi Junaedi menjabat dari tahun 2007 sampai sekrang
Dalam pemilihan kepala desa di Desa Kapandayan ini memiliki keunikan tersendiri, seperti halnya ketika pemilihan kepala desa yang pertama yaitu Pak Bambang, beliau dipilih sebagai kepala desa berdasarkan  banyaknya saudara beliau yang berada didesa kapandayan. Maksudnya ketika itu pemilihan kepala desa dipilih berdasarkan banyaknya warga yang memiliki pertalian persaudaraan dengan calon kepala desa, maka calon kepala desa yang memiliki saudara atau keluarga yang lebih banyak didesa itu maka dia lah yang dipilih sebagai kepala desa.
Namun kebudayaan itu tidak lagi dipakai ketika pemilihan kepala desa berikutnya, karena dianggap tidak adil oleh sebagian warga desa Kapandayan. Akhirnya pada pemilihan kepala desa yang ke dua menggunakan sistem pemungutan suara. Namun disini ada hal yang unik pula, dimana cara pemungutan suaranya bukan menggunakan kertas yang dimasukkan ke dalam kotak suara melainkan menggunakan lidi yang dimasukan ke dalam kotak suara. Dan untuk membedakan kotak suara calon yang satu dengan yang lainnya tidak menggunakan nama-nama calonnya melainkan menggunakan simbol-simbol seperti nama-nama tumbukan yaitu kelapa dan padi. Sistem seperti ini berjalan atau dipergunakan hingga pemilihan kepala desa ke empat.
Dan untuk pemilihan kepala desa berikutnya hingga sekarang menggunakan sistem yang sama seperti daerah-daerah yang lain yaitu menggunakan sistem pemungutan suara dengan pemilihan calonnya dengan mencoblos gambar atau foto calon kepala desa pada kertas suara yang sudah disediakan.
Desa Kapandayan terkenal dengan kebudayaan Rudatnya, Rudat adalah kesenian islami yang biasa di tampilkan dalam acara-acara sakral. Kesenian Rudat sama seperti keseniaan kosidah, namun dalam kesenian Rudat semua pemainnya baik yang memainkan alat musik maupun bernyanyi semuanya di perankan oleh laki-laki. Alat musik yang biasa di gunakannya adalah genjring. Genjring merupakan alat musik yang menjadi ciri khas kesenin ini. Numun sekarang ini kebudayaan itu sudah tidak ada, dan telah di gantikan dengan yang lebih moderen yaitu kesenian marawis, kesenian itu sama seperti Rudat namun bedanya pada marawis ada pemain wanitanya, dan alat musik yang digunakannya pun merupakan alat musik yang modern tapi tetap alat musik genjring masih di pakai dalam kesenian ini kaena merupakan ciri khas dari kesenian tersebut yang tidak boleh dihilangkan.
Pada tahun 70-an Desa Kapandayang terkenal dengan kesenian bela diri yaitu Pencak Silatnya. Perkumpulan seni pencak silat ini dikenal dengan nama Panca Warna yang di pimpin oleh Alm. H Aceng Ambari. Namun setelah pemilik perkumpulan pencak silat meninggal lambat laun kesenian itupun punah, karena tidak ada yang mau menggantikannya untuk melestarikan keenian bela diri ini.